Beautyinu Catat Penjualan 1 Juta Produk Seiring Naiknya Tren Bodycare Racikan

Beautyinu Catat Penjualan 1 Juta Produk Seiring Naiknya Tren Bodycare Racikan

Pergeseran perilaku dan preferensi konsumen kecantikan di kawasan perkotaan maupun regional Indonesia menunjukkan terbentuknya tren baru secara masif pada pertengahan tahun 2026. Konsumen masa kini terpantau tidak lagi bergantung secara eksklusif pada satu lini produk perawatan tubuh (bodycare) utuh, melainkan mulai beralih menuju tren personalisasi atau customized bodycare. Pendekatan mandiri ini memungkinkan masyarakat meracik produk perawatannya dengan menambahkan bahan aktif pelengkap ke dalam sediaan pelembap, sabun, maupun lulur sesuai kebutuhan spesifik kondisi kulit mereka sehari-hari.

Tren meracik kosmetik mandiri ini sejalan dengan peningkatan indeks literasi konsumen mengenai fungsi bahan aktif kosmetik. Fleksibilitas serta kepraktisan pemakaian menjadi alasan utama mengapa masyarakat mengadopsi metode ini secara rutin. Daripada harus membeli beragam produk terpisah untuk mengatasi masalah kulit yang berbeda-beda, seperti kusam atau kering, tindakan mencampurkan bahan tambahan khusus ke dalam produk harian dinilai jauh lebih efisien, hemat, dan terbukti tepat sasaran secara fungsi, efektivitas, maupun perawatan jangka panjang.

Merespons perubahan pola konsumsi pasar tersebut, produk tambahan berkonsep booster mulai bermunculan di pasaran. Salah satu pelaku industri lokal yang turut memfasilitasi lonjakan kebutuhan ini adalah merek Beautyinu melalui peluncuran Brightening Booster Gold Powder. Inovasi berwujud bubuk pencampur multifungsi ini teknisnya dirancang untuk melengkapi rutinitas perawatan harian bila dicampur bersama body lotion atau krim tubuh, serta melengkapi perawatan mingguan saat dikombinasikan dengan produk lulur maupun masker badan.

[Crusita N.B], [Marketing Manager] Beautyinu, memaparkan bahwa kehadiran bubuk booster merupakan manifestasi langkah strategis perusahaan beradaptasi dengan dinamika industri kecantikan lokal. "Perubahan mendasar cara masyarakat merawat diri menuntut industri menyediakan produk dengan fleksibilitas lebih tinggi. Fokus kami adalah menyediakan bahan tambahan fungsional agar konsumen memegang kendali penuh atas perawatannya secara personal, tanpa harus mengganti lini produk dasar yang sudah biasa digunakan sebelumnya," paparnya.

Tingginya penerimaan masyarakat terhadap metode booster ini dapat terlihat dari volume permintaan di pasar kosmetik nasional. Laporan data internal mencatat, angka penjualan kategori bubuk booster Beautyinu saat ini konsisten berada di atas satu juta unit setiap bulannya sepanjang siklus produksi. Walaupun permintaannya masif, pemenuhan standarisasi keamanan peredaran tetap menjadi prasyarat mutlak yang tidak bisa ditawar dalam pendistribusian setiap kosmetik racikan di wilayah hukum Indonesia.

Berdasarkan dokumen perizinan resmi, formulasi produk pencampur Beautyinu telah terdaftar sah di bawah regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dengan nomor notifikasi NA18240200017. Menyusul pemenuhan legalitas tersebut, dokumen Certificate of Analysis (COA) laboratorium independen turut merinci spesifikasi konsentrasi bahan pencerah di dalamnya. Laporan pengujian faktual membuktikan bahwa bubuk tersebut memiliki kandungan Niacinamide 5,22 persen dan Alpha Arbutin 2,30 persen, didukung antioksidan ekstrak Kakadu Plum.

Kendati menawarkan kepraktisan dan dapat dipadukan dengan berbagai sediaan kosmetik, penerapan customized bodycare mandiri tetap membutuhkan edukasi pemakaian yang benar dari sisi dermatologis. Pengguna disarankan selalu memulai dengan takaran kecil ketika mencampur booster ke rutinitas perawatannya, serta memastikan langkah uji tempel (patch test). Prosedur pencegahan ini krusial memitigasi kemungkinan munculnya risiko reaksi alergi, terutama bagi kelompok konsumen dengan karakteristik jenis kulit yang sangat sensitif terhadap bahan aktif pencerah tertentu.

 

Kembali ke blog